Vaksin Anti Hoax (Jurnalistik FeLSI SMAN 2 Sampit)
Karya
Muhammad Aditya Aprimanto X IPA 4
Pada kondisi pandemi yang melanda tanah ibu pertiwi kala ini mengakibatkan banyaknya kekurangan bahan pangan, ilmu pengetahuan, literasi mandiri, perasaan saling mengasihi, jiwa kesosialan masyarakat dan begitu banyak kekurangan lainnya yang menimpa bangsa. Berbagai macam upaya pemerintah termasuk juga Kementrian Pendidikan untuk meningkatkan mutu siswa-siswi mulai dari penyaluran dana pada laptop kemdikbud bagi banyak sekolah di Indonesia, pembagian kuota internet belajar, dan penyediaan fasilitas teknologi komunikasi pada setiap sekolah. Selain dorongan dari pemerintah, kita sendiri juga harus memiliki niat untuk bangkit dari keterpurukan dunia ini. Beragam langkah bisa kita lakukan, salah satunya yang paling dasar yaitu ‘literasi’.
Bagi para pelajar sendiri literasi secara simpel adalah sebuah kemampuan dan keterampilan pelajar dalam membaca, menulis, serta berbicara. Selain pengertian umum diatas literasi juga merupakan sebuah keahlian menganalisa, memahami, dan mendefiniskan kata atau tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri maupun orang lain. Literasi bisa menjadi senjata pamungkas menghadapi situasi yang belum pasti berakhir ini, dimana fungsi literasi sebagai keahlian dasar begitu diperhatikan dan berguna dalam aktivitas siswa/siswi.
Banyak yang berpikir bahwa literasi itu membosankan dan hanya hal enteng. Padahal literasi sering kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka saya memiliki saran bagaimana caranya agar kalian tidak menjauhi aktivitas literatur, yang tentu saja dapat membuat kalian semangat melakukan literasi dalam situasi pandemi ini! tidak harus selalu membaca buku yang berisi tentang ilmu pengetahuan, kita bisa mulai dari hal-hal sederhana seperti buku novel, komik, dan cerita pendek. Ingat kata pepatah sedikit-sedikit bisa menjadi bukit jadi jangan malu ketika orang lain mengatakan kita pemalas, mulai saja dari yang menyenangkan. Teman-teman bisa menyiapkan waktu literasi setiap hari, minimal 5 menit saja cukup. Setelah 5 menit, mulai hari demi hari naik 10 menit menjadi 20 menit terus meningkatkan sampai literasi tersebut jadi kebiasaan kalian setiap hari, kita bisa karena terbiasa!
Literasi sendiri merupakan salah satu langkah sederhana yang penting dilakukan oleh seluruh warga Indonesia. Sehingga dapat membangkitkan situasi terpuruk ini menjadi kearah yang lebih baik. Melalui berbagai macam sumber yang ada, seperti buku dan internet. Bisa membuat wawasan kita menjadi lebih terbuka, tahap merdeka belajar bukanlah mimpi semata. Kita dapat wujudkan harapan itu dengan memerdekan guru dan siswa dalam bidang pendidikan. Bisa kita sebut dengan memperluas literasi, yang berarti menciptakan keinginan tetap belajar meskipun dikondisi serba digital.
Semua tempat bisa dijadikan wadah literasi, termasuk wilayah terpencil seperti desa misalnya. Asalkan orang yang melaksanakan literasi merasa nyaman dan tidak terganggu. Giring bukumu kemanapun ayo literasi dimanapun!
Waktu untuk melaksanakan aktivitas literasi bisa kapanpun, termasuk waktu senggang dan tidak pada keadaan terdesak. Seperti saat istirahat sekolah, tidak punya kegiatan, malam sebelum tidur, dan berbagai situasi yang ada. Tidak ada jam khusus dalam kegiatan literasi, asalkan tidak mengganggu aktivitas lain dan orang sekitar. Sehingga alasan untuk menghindar dari literasi akan berkurang. Ayo bersama kita rangkul literasi bisa pulihkan negeri!
Begitu banyak keberagaman dari warga Indonesia, dari hal itu siapa saja yang dapat melaksanakan literasi. Literasi tidak memiliki batasan umur maupun profesi. Dari yang tua, muda, paman, pelayan, pedagang, dan lain-lainnya. Semua dipersilahkan untuk melaksanakan literasi, tidak ada peraturan mengenai siapa yang boleh melakukan aktivitas literasi atau siapa yang tidak boleh. Meskipun begitu masih ada segelintir orang yang menganggap literasi hanya untuk penerus bangsa atau kaum muda, sehingga mereka yang sudah lanjut umur kurang rajin untuk membaca serta menulis. Batasan seseorang bukanlah usia dan profesinya, tetapi diukur dari semangat orang-orang untuk memulihkan negeri melalui literasi.
Teman-teman sekarang sudah mengetahui tentang literasi, perannya, dan cara membangkitkan semangat diri, betul tidak? Maka dari itu saya akan membagikan berbagai pemahaman dan tindakan yang perlu dilakukan siswa dalam menghadapi banjir informasi media sosial, hoaks, pelaku yang menggiring opini dan lainnya
Media sosial, sebuah dunia maya internet yang sering digunakan untuk berbagi informasi dan kegiatan kepada orang lain. Memiliki jangkauan luas hingga hampir ke seluruh dunia, media sosial sudah menjadi darah daging dalam kehidupan komunikasi kita sehari-hari. Dunia maya yang dimana tidak mempunyai batasan dan terbuka bagi semua kalangan. Hal ini menjadikan media sosial dikenal banyak orang, bahkan suatu keluarga pun memilki akun media sosial khusus mereka.
Namun, media sosial tentu saja tidak luput dari berita yang tidak jelas faktanya. Kebanyakan peggunanya hanya mengikuti hal yang sedang ramai. Salah satu peristiwa yang sering terjadi disekitar kita adalah penyebaran berita hoaks. Berita hoaks sangat beresiko dipercaya banyak orang yang tidak paham mengenai teknologi dan sumber informasi. Biasanya hoaks terlihat seperti hal yang meyakinkan serta mewakili suara banyak orang. Padahal kebenarannya sendiri masih dipertanyakan.
Berita hoaks yang tersebar di media sosial sudah pernah kita alami sebelumnya. Liputan tentang artis yang tidak percaya akan COVID-19, yaitu kasus Musisi J dan dr L. Sebagian pengguna media sosial mendukung perilaku mereka yang menyebarkan hoaks. Saya berpikir mereka mendukung bukan semata-mata hanya ikut meramaikan tapi, sebelum berita itu terliput mereka sudah mengalami kekecewaan serta ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Sehingga ketika mereka melihat ada orang ‘berpengaruh’ yang menyuarakan aspirasi banyak orang, mereka ikut sebagai pendukung dan mempercayai pernyataan hoaks tersebut.
Masyarakat juga harus hati-hati dalam mengadakan tradisi yang mengumpulkan banyak orang. Dari pengalaman pribadi, tradisi daerah saya di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah yaitu ‘Mandi Safar’. Mandi Safar biasanya dilakukan pada hari Rabu akhir bulan Safar, dengan menceburkan diri ke air mau itu sungai atau laut. Tujuan dari tradisi ini adalah meminta kepada sang kuasa agar terhindar dari marabahaya, penyakit dan menyucikan diri dari dosa. Tapi, kita ketahui bahwa pada masa pandemi ini dilarang melaksanakan tradisi dan kegiatan yang hampir mirip. Jika masyarakat tidak menghiraukan, bisa saja terjadi ‘Tsunami Covid.’ Seperti di negara India beberapa waktu lalu.
Peristiwa yang hampir sama dengan kasus Musisi J dan dr L pernah terjadi di daerah asal saya, Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Berlokasi di Pasar Keramat, sekelompok organisasi memberikan sumbangan vaksin pertama gratis kepada seluruh orang di sekitar pasar tersebut. Tapi, yang mereka terima malah tolakan secara halus dari pedagang sekitar. Pedagang serta konsumen yang berada di tempat kejadian perkara malah saling lempar jawaban, “lebih baik kamu saja yang ambil dosis vaksinnya, saya tidak mau kenapa-kenapa.” Dan seperti itulah secara terus menerus. Saya sendiri merasa prihatin kepada orang-orang yang skeptis dengan vaksinasi, padahal banyak sekali orang yang memerlukan vaksin pertama agar bisa kembali melaksanakan aktivitasnya seperti biasa.
Riset mengatakan bahwa vaksin memilki ke-efektifannya masing-masing. Suatu vaksin bisa efektif dalam kurun waktu seminggu penuh, sedangkan satu lagi punya masa selama 3 bulan. Dosis yang diberikan juga mempunyai resikonya sendiri. Terkadang bisa menyebabkan demam,flu, dan sedikit mual. Satu lagi hanya menimbulkan flu saja. Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa vaksin tidak selamanya bekerja menghadapi virus, tapi ada tahap yang diberikan pada tubuh kita hingga bisa membentuk imun yang bekerja selamanya.
Hendaklah kita semakin pintar dalam menyeleksi berita dan liputan yang masuk ketelinga. Ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk menangkis informasi hoaks. Pertama, jangan mudah percaya langsung suatu informasi yang kalian terima. Kita sendiri harus menyaring berita secara detail, dengan cara mencari elemen dan inti pembicaraan tersebut dengan benar. Kita harus berpikir sesuai fakta sehingga tidak mudah terhasut berita hoaks. Kedua, amatilah opini orang lain yang sedang berada dalam komunitas itu. Dengan mengambil berbagai macam kesimpulan dari pernyataan orang-orang kita dapat memahami situasi yang sedang terjadi, apa yang dipermasalahkan dan bisa kah kita mempercayai informasi tersebut. Namun, belum tentu opini semua orang sesuai fakta. Dalam keadaan tertentu bisa saja mereka pelaku yang menggiring opini.
Pada zaman yang modern ini banyak sumber berita yang dapat kita akses dengan mudah sepeti, artikel berita di suatu situs, kutipan berita dari akun media sosial yang membahas berita, suatu komunitas dan masih banyak lagi. Dari beberapa contoh yang ada, sering terselip pelaku yang menggiring opini. Menggiring opini dapat diartikan sebagai tindakan seseorang yang memaksa orang untuk menerima informasi dan pendapat yang mereka percayai kepada orang lain. Mereka menginginkan orang sekitar agar satu pendapat dengan mereka. Sehingga orang yang memiliki pendirian dan argumen lemah akan terhasut oleh opini yang mereka sampaikan.
Contoh pelaku yang menggiriring opini dapat saya berikan adalah seperti berikut. Wartawan A mengatakan vaksin itu berbahaya dengan memaksakan pendapatnya kepada orang sekitar, sehingga orang disekitar pun jadi percaya dan mendukung opini wartawan A. Sedangkan, wartawan B mengatakan fakta yang sebenarnya namun tidak memaksakan pernyataannya kepada orang sekitar. Tindakan wartawan A yang melakukan hal ini biasa saya sebut dengan aktivis, mereka hanya akan memaksa kalian tanpa fondasi fakta yang benar dan tentu saja membuat banyak orang berada dalam situasi buta informasi.
Perilaku antisipasi yang dapat kita laksanakan adalah dengan mengambil kesimpulan dari opini orang lain secara sadar dan penuh pertimbangan. Dengan melakukan analisa logika pada banyak pernyataan, apakah yang dia sampaikan sudah sesuai fakta dan logika atau tidak. Selain itu, kita dapat berperilaku acuh tak acuh terhadap pendapat yang dia berikan. Kemungkinan kita terhindar dari situasi buta informasi menjadi lebih besar. Harus selalu ingat juga arti dari argumen dan opini yang kita miliki. Sehingga jika ada orang yang hendak memengaruhi, kita tak langsung percaya begitu saja.
Kedepannya setelah menyampaikan hal ini, kita semua dapat meningkatkan mutu pelajar seperti literasi, moderasi informasi dan perilaku menghadapi keberagaman. Pastinya jalan yang kita lalui akan sulit, artikel sederhana tidak akan sepenuhnya menggerakan raga pelajar yang berwujud seperti singa tidur. Namun, Ketika hal ini terwujud jiwa pelajar akan mulai bangkit dan disitulah banyak bakat terpendam singa NKRI mulai terungkit. Kita berharap banyak tokoh-tokoh penting yang juga sadar akan peristiwa ini, sehingga impian kita tidak lagi mustahil untuk direalisasikan.
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini